pada seseorang
senja bertaburan gerimis tipis
menghadang………,
arak-arakan "Pertalian Agung"
dibawah bayang-bayang kelopak flamboyan
berselimut kabut, sementara matahari membelah bumi
aku mengingatmu,..
pada pelukan,….
dalam tatapan,…
di warung kopi pinggir jalan,…
dingin aspal antara kediri-surabaya,…
mata yang mengeja bintang,…
pada lengan kanan yang terlalu rapuh,…
seolah pagi itu aku menjadi banci,…
aku "ada",…
saat syari’ah dan air mata
saling pasung.,…
ingkar,….
menguasai,….
bergumul,…
kemudian memusnahkan
dalam etalase kaca, pesta para borjuis
apakah ada bintang dibalik sinar bulan?
dua air mata menjadi do’a,..
‘ada’ku adalah cerminan surga
walau entah kapan, engkau tampak jelita
sementara bahasaku bukan suara perkutut
adalah diamku nyanyian angsa pada pagi buta
yang tak mungkin kau dengar,….
seolah kata Tuhan membungkam dengan sajadah
basah, tumpah hasrat primitif yang meluap
‘ada’ku,….
adalah senyum terahir sebelum,…
mati!

0 comments: