BISIK ANGIN PADA PURNAMA

Apa yang sedang aku rangkai ini yang tiada berbeda dengan semilir angin malam yang menusuk sum-sum; pun tidak lebih nyeri daripada apa yang menusuk dalam hatiku, lebih tepatnya menyayat, melukai hingga bibirku gemetar harus mengerangkan kesakitanya yang sedemikian tak terperikan.
Permintaanmu dengan rajutan kalimat sederhana benar-benar membuatku terperangah; “apa yang harus aku jawab?” pekikku dalam hati; sementara tuntutan menjawab sudah tidak ada penangguhan waktu walaupun sekedipan mata. “kalaupun itu permintaan yang sudah kau yakini, aku menurut, walaupun hatiku sendiri belum yakin mampu melakukannya” jawabku yang separuhnya telah kau terima; dan setengahnya lagi aku ucapkan dalam diri berselaput perih.
Cinta, telah menjadi takdirnya tersepuh dengan kasih sayang; siapapun yang mengatakannya, kau (sayangku), aku sendiri dan mereka semua, teresap sangat indah, membuai seduh-sedan, tawa jugapun air mata, akan tetapi selamanya akan berbuntut runcing seperti ikan pari,…kenapa harus takut kehilangan sayang? Apalah arti kehadiranku juga orang-orang disekelilingmu pada akhirnya kata cinta tidak cukup kuat menciptakan keabadiaan pada mereka, pada orang yang mencintai bahkan engkau cintai sepenuh dan setulus hatimu; keberadaan cinta seperti keberadaan diri kita sendiri, ada kemudian tiada, lahir, seterusnya kematian yang akan berkuasa. Apa yang engkau risaukan sayang? Kau (sayangku) telahpun bertumbuh subur cinta dalam hatimu adalah suatu anugerah (seperti apa yang telah aku katakan), kita tidak pernah bertepuk tangan sebelum kehadirannya, tapi kenapa kita menangisi kepergiannya; bukankah yang demikian ini dinamakan hidup? Tumbuh-hilang-berganti, siklus hidup yang sangat wajar sayang; bukan untuk ditangisi atau disesali tapi untuk dihayati

0 comments:

Posting Komentar | Feed

Posting Komentar



 

Aksara Berdarah Copyright © 2009 REDHAT Dashboard Designed by SAER