AKU, MALAM dan FACE BOOK

catatan masa silam,..
Malam menurut saya adalah bagian dari keseluruhan waktu yang terfragmentasi; ada pagi, siang, sore dan juga malam. Malam ditandai saat matahari telah bergeser dan hilang di ufuk Barat. Bumi kehilangan sumber cahaya yang membantu mata untuk mengenali, membaca sekaligus mengidentifikasi segala fenomena yang ada disekitarnya. Mata sebenarnya salah satu ujung tombak atau dengan kata lain gerbang untuk menyerap pengetahuan yang kemudian diinternalisasi menjadi ilmu dalam konteks lebih lanjut, tentunya tidak serta merta, akan tetapi ditunjang dengan beberapa aspek metodologis lainnya.

Mekanisme secara biologis, hubungan cahaya dengan mata merupakan hubungan yang bersifat timbal balik, hubungan yang dinamis ini akan menghasilkan bagaimana mata mampu menjalankan fungsinya; sebagai indera penglihatan. Proses sederhana bagaimana mata bekerja sama mengantarkan cahaya dari sumbernya menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem syaraf kemudian mampu melihat dan mengenali objek sekitar; dimulai dari kornea yang berfungsi sebagai penerima cahaya dari sumber cahaya, kemudian diteruskan ke pupil yang pola kerjanya menyaring sekaligus menentukan kuantitas cahaya, mengoperasikan cahaya mata disesuikan dengan kondisi lingkungannya; dalam kondisi yang terang mata akan melebar, sebaliknya dalam kondisi yang gelap secara otomatis mata akan menyempit, mekanisme ini disebut sebagai iris, yaitu bagian mata yang berfungsi sebagai diafragma. Selanjutnya dari iris akan diteruskan ke retina kemudian ke syaraf optik baru masuk dalam otak.

Dari proses serta mekanisme biologis gerak mata mampu mengenali objek ternyata tergantung dari cahaya, ini tidak berarti bahwa cahaya lebih penting dari organ mata ataupun sebaliknya, justru yang lebih penting adalah, bahwa kerja sama antara keduanya mampu membentuk pengetahuan dalam diri kita. Pengetahuan tentang benda-benda, tumbuhan dan hewan yang ada disekitar kita.
Pengetahuan tentang duri misalnya; melalui mata kita melihatnya sebagai sesuatu yang tajam, biasanya dari bagian hewan (ikan) atau tumbuhan tertentu, saat tidak sengaja terinjak kaki, akibatnya akan berdarah, dan kemudian diikuti dengan perasaan pedih dan perih. Hal ini menandakan bahwa dalam kondisi tertentu, kemampuan melihat akan mengakibatkan semacam pengalaman merasakan, pengalaman merasakan sakit itu bersifat intuitif dan non-empiris akan tetapi bisa disebabkan oleh sesuatu yang empiris.

Kita kembali pada pokok pembahasan kita. Malam selain diindikasikan sebagai keaadaan yang gelap karena tidak adanya sumber cahaya (matahari), juga ditandai dengan standart waktu yang berlaku, di surabaya malam ditunjukan mulai pukul 18.00 Wib. ketiadaan sumber cahaya (matahari) tidak dikarenakan tertutup mendung atau kita berada dalam terowongan atau ruangan yang tertutup, akan tetapi gerak matahari telah meninggalkan poros bagian bumi kita secara alami.

Bagi sebagian orang, malam dianalogikan sebagai ladang minyak yang harus dikuras habis isinya; para maling, garong dan penyamun adalah para penguasa malam. Mereka beroperasi saat malam tiba, malam sebagai waktu potensial yang mereka manfaatkan sebagai moment paling tepat untuk mengumpulkan harta kekayaan. Selain sebagai waktu potensial, malam bagi mereka juga sebagai tabir yang sangat efektif untuk menyelamatkan diri. Lihatlah bagaimana beberapa kali para penegak hukum, tidak mampu menemukan dan mengendus jejak pencuri saat malam hari. Malam seolah melindungi mereka, menghilangkan jejak langkah yang ditinggalkan, juga menghapus warna kulit, tinggi dan ukuran badan dari mata pemburu mereka. Karena mata secara natural tidak akan mampu menerobos jejaring yang disediakan oleh malam, walaupun mata polisi atau satpol-PP sekalipun. Mata manusia tidak seperti mata burung hantu yang mampu menerobos pekatnya wajah malam.

Malam juga bisa dianalogikan sebagai kondisi mental tertentu, para penyair misalnya banyak menggunakan malam sebagai pewarna sekaligus fokus dalam karya-karya mereka. Malam dengan berbagai macam susana yang melingkupinya, mampu memunculkan inspirasi serta ide-ide yang segar, seperti sebuah sajak yang aku temukan tidak sengaja dalam salah satu blog di internet; malam ternyata mampu memberinya semacam ilham bagi orang yang suka merenungi dan merefleksikannya, sehingga menjadi tulisan dengan untaian kata-kata yang manis.

Sajak yang ditulis oleh Rahmat Halim ini menurut tafsiran penulis sekilas, diwujudkan saat malam, malam dengan kegelapan wajahnya saat para pencuri dan penyamun merayakan pesta pora dari hasil mendulang minyak, entah milik siapa, malam yang bagi seorang yang shalih bersujud dihadapan Tuhannya, dengan lambaran air mata dan rintihanya, malam yang bagi para pembesar negara-negara kita telah sibuk merajut mimpi hingga datangnya pagi.

Malam bagi Rahmat halim, tidak hanya sekedar malam, akan tetapi semacam telaga makna yang tersembul dari kedalaman perasaanya dan jiwanya.

Dalam Kegelapan Malam..
Dalam kegelapan malam..
Kumendengar gemericik air yang menenangkan jiwa
Membentuk sebuah simponi alam dalam kegelapan
Seperti memainkan lagu sendu
Diantara kekosongan hatiku

Dalam kegelapan malam ..
Kurindukan mentari dengan cahayanya yang sombong
Merasuk masuk kedalam jendela kaca
Mengirimkan sinyalnya akan datangnya pagi
Menghentikan alur dari mimpi indah tentangmu
Dalam kegelapan malam..
Kumainkan jemariku pada sebuah gitar tua
Diiringi angin yang bersiul diantara [...]

Sementara bagi penulis sendiri, malam, dalam moment tertentu, kehadirannya mampu menjadi penyebab kehadiran yang lain, narasi yang terjadi dalam kenyataan menyebabkan kesakitan dan keperihan dalam ruang batin. Cerita tentang dirinya (walaupun dalam beberapa hal hasil olahan pikiran dan imajinasi) menyebabkan air mata penulis tumpah, dengan perih yang kualitasnya lebih seribu kali dari telapak kaki tertusuk duri. Tidak jelas apakah kenyataan (kejadian yang sebenarnya) ataukah hasil olahan imajinatif, bahkan gabungan antara keduanya—kenyataan sebagai dasar—kemudian diolah dalam pikiran yang menyebabkan peristiwa batin demikian? Ataukah ada sebab lain yang menjadi elemen substansial ? tinggal dari mana sudut pandang kita mengarahkannya. Tapi yang jelas, malam adalah waktu yang tepat saat semuanya terjadi, saat bagaimana pikiran kita melayang entah kemana, saat imajinasi kita menembus ruang dan waktu, saat kedaan batin kita merasakan kesan yang dalam. Malam menjadi semacam ruang beroperasinya pikiran, imajinasi dan hati, malam seakan menjadi puncak penyatuan antara ketiga pengalaman tersebut.

Dalam beberapa tulisan status penulis dalam facebook. Cerita tentang malam seolah tetap konstan dalam kehidupan penulis secara subyektif, tidak pernah terputus oleh pagi, siang bahkan sore. Malam menjadi eksistensi ruang tersendiri tanpa disebabkan oleh munculnya matahari. Malam telah menjadi analogi keadaan batin penulis.

Catatan:
Dimulai 09 Januari jam 22:08, dalam dokumen catatan status tertulis, DUH GUSTI, DADAKU KEMBALI BERGEMURUH!!!.
Waktu menunjukan pukul 22:08, saat pikiran penulis menyadari kenyataan sepenuhnya bahwa seseorang berdekatan dengan orang lain yang telah diikat dengan ikatan formal. Dari sini pikiran penulis membentuk narasi cerita yang bersifat egois dan sentimentil. Akibatnya seolah satu duri telah menancap dalam batin, kesakitannya memang belum seberapa, akan tetapi imajinasi seolah terus berambisi memenuhi tubuh penulis, hingga memunculkan status selanjutnya, MALAM JAHANAM!! (09 Januari jam 22:39)
Malam masih saja belum beranjak, malam dalam artian yang sebenarnya, jam menunjukan pukul 22:39, akan tetapi kepekatannya telah merambah keseluruhan batin. Imajinasi penulis telah benar-benar menguasai keseluruhan apa yang ada dalam diri penulis sehingga tak ada sedikitpun celah dan lubang yang tak berhasil disergapnya, tidak terkecuali dengan hati. Imajinasi sebagai penyebab rasa sakit, sementara kenyataan sebenarnya bergeser ke pinggir, tergerus dan hilang sama sekali. pada titik ini imajinasi seolah menjadi kebenaran atas apa yang terjadi. Imajinasi menjelma kenyataan itu sendiri, dan kesakitan sebagai penyebab yang mengikutinya menjadi anak emas yang terus ditimang dan minta selalu dimanja.

Dari peristiwa dan keadaan batin diatas, memunculkan kenyataan yang bersifat inderawi, dalam catatan status penulis tertulis begini;
ADA TETES AIR MATA DIUJUNG SAJADAH. ADA TANGISAN YANG MENGOYAK NERAKA. ADA KESEDIHAN MENJEMPUT KEMATIAN (09 Januari jam 23:12)
Teks diatas ditulis dengan verbalitas bahasa dengan makna yang sebenarnya, juga dengan bahasa metaforis dengan makna yang hanya mampu mendekatinya. Kalimat "Setetes Air Mata", adalah representasi dari bahasa verbal, maknanya mengikuti kalimatnya, artinya memang benar-benar meneteskan airmata (menangis), sementara itu totalitas kepasrahan pada akhirnya menemukan muaranya, "Sajadah" sebagai analogi dimana dan kemana kapasrahan atas kenyataan batin itu dialamatkan, saat tak lagi ada seseorang yang mampu memberikan rasa lain selain kesakitan yang terus bertambah dan berkecambah. Satu-satunya sandaran yang pantas dan patut adalah Tuhan.

Perpaduan dua tipikal bahasa diatas diwujudkan penulis dengan maksud sebagai ejawantah dari kondisi batiniyah penulis. Setting malam hanya sebagai lambaran narasi dan terlebih jauh lagi sebagai kondisi yang menyelimuti batin dan pikiran. Saat mata batin dan mata pikiran sudah tak mampu lagi melakukan fungsi sebagaimana mestinya, lagi-lagi malam sebagai tabir kepalsuan (kata bang haji) sebagai penghalang sekaligus merepresi potensi kekuatan yang dimiliki oleh pikiran, juga sebagai kesadaran palsu (kata bang marx) sehingga kenyataan yang sebenarnya (karena bisa jadi "seseorang" yang telah penulis ceritakan mengalami seperti apa yang penulis imajinasikan, atau bisa jadi tidak mengalami) tertutupi kebenarannya.

Persekutuan malam dengan daya khayal (imajinasi) membentuk apa yang dinamakan "perang batin", dan "perang batin" dalam kemampuan tertentu bisa dibuat sebagai elemen pemaksa seseorang semakin kreatif, atau paling tidak dianggap sebagai orang yang mampu menulis sajak. Bukankah menjadi wajar, seseorang yang patah hati, atau kegagalan dalam bermain cinta mampu menuliskan berbagai macam sajak sampai berpuluh-puluh, dengan tema yang sama, juga dengan bahasa yang sama, yaitu "sakit", saat kondisi normal dia tak mampu melakukannya, bahkan nyaris dia tidak pernah berfikir bahwa dia mampu menulis itu.

,….dimana malam saat "persekutuan" lebih mungkin terjadi,
"persekutuan" Mahluk dengan Tuhan tak terkecuali.
Sebaliknya,…
"persekutuan" Mahluk dengan Iblis akan juga terjadi sewajarnya
…semoga saja, begitu kira-kira,..

0 comments:

Posting Komentar | Feed

Posting Komentar



 

Aksara Berdarah Copyright © 2009 REDHAT Dashboard Designed by SAER