adikku
dulu,.
moyangmu tak mengenal tulisan, baca buku
pantatnya hitam-kelam keras seperti batu
pun tak pernah tahu lunaknya bangku-bangku
jemarinya kokoh kekar dengan tapak mengapal
mengikis gagang cangkul saban hari kian hafal
alam adalah bagian dirinya terus dikenal
kebijaksanaan menyembul dari tanah yang gatal
adikku
kini,..
jemari lentikmu mengenal tulisan
tebal kacamatamu telanjangi pelajaran
pantatmu halus selalu akrab bergandengan
marmer putih-pucat dan bangku-bangku sekolahan
tempurung otakmu penuh ilmu pengetahuan
banyak ditimba dari negeri berperadaban
adikku
ingatlah
ilmu pengetahuan telah mengakar-mengeram
dalam tempurung otakmu yang muda-belia
pintar-pintarlah menyalurkannya dalam dada
akrabilah juga kenyataan jangan sesekali terpejam
karena otakmu bukan comberan
adikku
pengetahuan disuling dari kenyataan
kenyataan di rubah oleh pengetahuan
hati-hatilah
perselingkuhan keduanya mewujud kekuasaan
baca dan robeklah keduanya dengan kuasa-pengetahuan
adikku
kebijaksanaan
bukan lahir dari seberapa banyak kau kumpulkan
dari menghafal dalam buku-buku pelajaran
juga bukan dari kata guru seolah kalimat Tuhan
akan tetapi adikku
dari seberapa tanganmu mampu
menjumputi potongan-potongan kenyataan
kau serap sarinya hingga tandas
kau alirkan pada mereka berwajah melas
tertindas
dan terlindas hingga tuntas
merdeka dan bebas
adikku
tidurlah
bermimpilah menjadi diri sendiri
*REFLEKSI HARI ANAK*

0 comments: