Sesaat sebelum aku mati; kenangan-kenanganku datang menghibur, melantunkan dongeng-dongeng masa kecil, masa sebelum aku mengenal kegetiran, kesendirian, dan keterasingan. Masa yang setiap hari hanya mengenal keceriaan, senyum dan pelukan dari orang-orang yang mencintai. Kebenaran mencintai dalam diri masih nisbi karena hati ini telah cukup disemai oleh cinta orang-orang yang mencintai.
Kini Tibalah Kesunyian….
Datang seperti angin ribut, tak tampak mencekam karena bersamaan dengan selubung kebahagiaan, kehendak bebas menentukan langkah menemukan cinta yang sebenar-benarnya cinta. Tapi, sebilah
belati niscaya punya dua mata hati; dan yang tersisa hanya mata hati seorang pembunuh, dan penyamun yang saban hari berpesta mencacah jiwa. Mata hati ini memperoleh kediriannya dalam jumlah nyawa-nyawa yang melayang ditangannya.
Mata hati maut yang sebentar lagi mengantarkan aku dalam peristirahatan abadi, ya sebentar lagi. Aku telah merasakan mata belati ini menyayat-nyayat semua impian dan harapan-harapan yang baru tadi pagi aku sulam dengan kegetiran hidup, keterasingan dan kesepian, sebelum langkah terahirmu menanggalkan semua kepercayaan dan mengganti maut atas semua ini.
Dan Sebelum Ini Semua Berahir….
Aku telah menuliskan semua kata-kata terahirku dalam setiap nafas kebahagiaanmu. Karena sebelum ini,
keindahanmu telah membiarkan aku tergeletak disudut bumi dengan ketakutan menatap kedepan. Kau biarkan aku menggigil sendirian dalam pekatnya malam dalam kubangan do’a-do’a yang mustahil diterima, kaubiarkan aku tenggelam dalam mata air air mata yang ku tumpahkan atas namamu, ya! Hanya atas namamu.
Semenjak itu aku telah menjadi manusia yang tak pernah ada dalam diriku. Hanya Keceriaan masa kecil yang perduli, itupun hanya sebentar sebelum kau paksa fajar merengkuh dan merenggutnya dalam
kesendirian dan kesepianku. Setelah itu, kembali aku terseret dalam malam jahanam, bersamaan dengan itu kaupun mengajari seekor burung kenari bersiul, bernyanyi sembari mengejek ke-manusiaanku dengan orang lain yang mendengarnya merupakan fajar baru dalam mengemis hidup, serta memenuhi tenggorokannya dengan kebahagiaan yang semu.
Gila!
Rindukah aku pada ketenangan jiwa? Sementara ia tak pernah keluar dari tubuh yang disiksa bahkan dibunuh sekalipun. Aku rasa ia kini resah, termangu dan menunggu disingkap perbendaharaan tak terbatasnya. Ia asing dengan dunia luar, yang serba gemerlap, indah dan gila. Ia mensucikan diri dari ritus hidup yang semakin dangkal dan dengan hasrat yang tak pernah terpuaskan kecuali dipasung dengan ajal.
Dulu mereka semua menganggap aku gila “lihatlah ia si gila itu, malah menantang badai, seolah-olah badai mampu memberinya ketenangan jiwa” serempak mereka berteriak demikian. Aku tak menghiraukan apa yang dikatakan bahkan diteriakkan oleh mereka, karena aku yakin suatu saat apa yang aku cari dengan mempertaruhkan sehelai nyawa yang tak sebegitu berharga, akan mereka cari juga. Tapi waktunya telah keburu berahir dan mereka akan menemui ajal dalam kumparan badai yang menggila dengan berlapis-lapis kebodohan atas mereka sendiri.
Benar! Aku mengakui telah salah, tapi sebelum ini semua berahir, aku ingin mengatakan sebagai kata terahir. Ternyata, Badai itu tidak menyimpan apa-apa selain ruang penyiksaan terhadap tubuh, lainnya tidak. Aku kembali setelah nyawa ini tinggal sejengkal, aku berhasil menguncinya dalam tenggorokan. Aku berpaling menyambut badai yang bahkan lebih dahsyat dalam diriku dan aku telah menemukannya, menemukan kedamaian jiwa yang selama ini telah menjadi mitos para “pencari” dengan melampaui bumi. Disini, ya, dalam diri ini kedamaian jiwa telah aku temukan dan hanya tinggal sehasta aku
merengkuh Tuhanku.
Tuhan!
Seumur hidup aku telah mengganti-Mu dengan hasrat memilikinya, keindahan semu dari seseorang yang pada akhirnya tidak pernah aku temukan. Aku tersesat dalam rimba semesta yang menyeret-Mu dalam keterasingan abadi. Kebodohan terbesar, menganggap seorang manusia mampu memberi kedamaian jiwa murni, yang telah aku lupa, kesejatian dan kemurnian hanya pada-Mu, jubah kebesaran-Mu dalam memberi arti dan makna pada setiap nyawa-nyawa yang telah dikorbankan.
Tuhan!
Aku tidak akan pernah memohon ampun atas cinta manusiawi yang telah aku perjuangkan. Kalaupun apa yang aku anggap sebagai kebenaran ini telah salah, aku rela dilemparkan pada nyala-Mu yang
Maha panas. Tapi jika benar, maka rengkuhlah ia dalam ketenangan abadi, setingkat dibawah-Mu. Biarkan ia berjalan pada tulang yang telah digariskan Sayyidanah Umar pada para pemberontak keyakinan-keyakinan atas nama-Mu. Berikanlah kedamaian abadi pada jiwanya yang rapuh, serapuh sarang lebah dalam hempasan badai kebesaran-Mu.
Dan Sebagai Akhir Atas Kata Terahirku….
Relakan ia menyublim bersama Dzat-Mu karena akan membawa keyakinan kebenaran atas cintaku pada kemurnian dan keabadian.
Aku bersimpuh bersama keluarnya nafas dalam tenggorokanku…….

0 comments: