tangan-tangan maut melambai di mataku
dengan kulum senyum, bibir tipis selalu basah
menggodaku mendekat kemudian direngkuhnya
padaku dia bilang cinta, sembari tertawa
kemudian menggandeng tanganku
melalui hatimu yang beku
dipetiknya bunga
masih kuncup berkelopak wajahmu
"ciumlah"
katanya lirih di telingaku
"ucapkan selamat tinggal padanya"
aku hanya diam, meragu
jemarinya lentik mengusap daguku
"jangan takut, dia takkan berani menantangku"
"biarlah kau tanam air matamu disini
sebagai pengganti bunga yang kau gagahi"
marilah
pintu sebentar tertutup
dan akupun terbang, hilang
bersama maut berkendara duka

0 comments: