SORE DALAM TINTA PENAKU YANG MURUNG

Kretek Marlboro tinggal separuh
Secangkir kopi, tandas, habis tak sisa
Buku2 gemeletak diatas meja kaca yang buram
Isinya berhamburan keluar, mengais kenyataan
Mengadu tubuh, akal, sore dan hampir senja
Tak menemukan apa-apa selain kekosongan

Lampu lima watt menyala sendu
Tengkar dengan sudut gelap sembari malu-malu
Sedikit membias pada separuh wajahku
Murungku tiba-tiba menguap; menakar gaduh
Anak dan emaknya tentang jemuran kehujanan
Si anak hanya menangis, bermain sisa ingus
Yang bergelayut dengan air mata yang tumpah

Sore puisikan senja yang hampir tiba
Senja nyanyikan wajah malam seolah berduka
Malam ku guratkan penaku diwajahnya
Sekaligus melambai pada senja

Pada kemurungan yang dibawanya
Pada kegelisahan yang dikendarainya
Pada keresahan yang diasuhnya

Kepak lembut burung sriti menyusup langit2
Kembali ke sarang, memagut mesra si kekasih
Hampir lama tak di jamah;
mengais hidup bersama sekawananya
bertahan hidup; itulah cinta baginya

anak-anak kucing mengaing
bergerumbul di kantong shofa usang
mencari induk, semenjak pagi entah kemana
"mencari susu" kata anak kucing
"mencuri sisa ikan di tong sampah" timpal yang lainya
"bukan!!"
semua anak menoleh mendengar kata itu
"mengejar sisa cinta yang dibawa bapak kalian"
Kata induk kucing dengan mata sayu dan berkaca-kaca
"dan itulah cinta kalian" hardik si tikus dengan angkuh

Malam hanya mendengar dengan senyum
Gemintang melihatnya dengan muram
Dan bulan hanya berdecak kagum

Dan aku
Tak berkata apa-apa

0 comments:

Posting Komentar | Feed

Posting Komentar



 

Aksara Berdarah Copyright © 2009 REDHAT Dashboard Designed by SAER