Saat fajar mulai tenggelam, perempuan itu datang; dengan tiba-tiba dan barangkali tanpa hati; senandungkan padaku sebuah cerita cinta—dengan darah yang bersimbah diantara nama-namanya. Diantara dunia yang semakin ganjil, keriput yang menjijikkan; aku mengangguk; sejarah cinta bukan tanpa darah didalamnya, suatu hal yang naïf bahkan mustahil, dan aku hanya akan menuliskannya untukmu, bukan siapa-siapa apalagi manusia.
Aku mulai pada September, saat itu dunia menjadi hitam pekat; perjalanan hidup menyendiri, merayakan keterasingan, keterpecahan tiba-tiba, membungkam verbalitas moral dan prilaku yang telah mapan. Orang seakan liar mengenal aku; sementara aku masih sibuk melukis majahnya dalam keremangan; gelita masih menggelayuti hasrat; eja kata masih gagap, dengan tiba-tiba ia menata karangan bunga atas darah yang sebentar lagi membuncah; nadiku yang teriris. Sampaikan karangan bunga itu pada nyawa yang sebentar lagi melayang-layang; hantu dari kota mati. Pekikku pada senja saat itu.
Sepertinya aku harus berkabung; menari bertelanjang ria dibawah terik; meliuk sambil melepas jerat hasrat berbuhul sumpah; sia-sia! Ia telah menjelma manusia tanpa pilihan hidup, sialnya tiap desahan nafasnya mengurangi nyawaku lembar demi lembar, helai demi helai; sampai memberhala. Ketiadaanku dalam diri, selalu direpresentasi; cermin buram tentang alur sejarah, ritus hidup dan makna kematian; cukuplah aku telah berani menempuh kematian tanpa bermimpi sorga; sementara dia sebaliknya; berhasrat sorga tanpa berani mati. Kau! Telah tiada….
Aku harus menulis apa? Kataku menghardik diri sendiri.
Cinta?! Yang–walaupun—tidak lebih sakral dari hanya pertukaran cairan. Dua hasrat lain bertemu dalam satu dunia imajinatif kemudian terpisah satu sama lain setelah—seolah kenikmatan duniawi telah tuntas direngkuhnya; selanjutnya selalu diualang, ditutup-tutupi dan dimapankan menjadi ritus kemudian menjadi mitos; cinta suci yang berbatang tubuh kesetian dan berakar kerinduan adalah tak lebih hanya sekedar mitos; termasuk didalamnya “labirin” dunia hitam-pekatnya; patah, pisah, iris dan bunuh diri. Tidak ada yang sakral turun dari langit Cuma-Cuma! Semua profan; menyejarah kemudian jadilah abstraksi tentang kebenaran yang parsial. Aku mencintaimu adalah kebenaran. Universalitas yang telah aku urai, serat demi serat, dan lapis demi lapis, lantas terciptalah abstraksi cintaku dengan bentuknya yang baru; lain dari wajah cinta manapun.
…….aku mengambilnya dari sari pati eksistensi manusia otentik. Karena itu konsep cinta yang kemarin dulu telah aku urai adalah semacam nyanyian angsa dari kabut kota mati seperti apa yang terjadi saat ini. manusia sama turun drajad sampai menjadi benda, diperjual belikan dengan harganya yang paling murah. Lalu apa yang tersisa? Tidak ada! Kecuali keber-ada-an tanpa makna yang semakin menerobos relung-relung nalar serta mental manusia. Cinta pada akhirnya akan dibawa kepermukaan, pada ambisi menguasai; memanfaatkan dan mendominasi. Insting hewani yang melayang-layang, merengkuh kemudian mengoyak kesetiaan sedemikian rupa.
Suatu malam—hampir senja—bawah sadarku menayangkan slide-demi slide cerita yang mungkin alurnya terbias kemana-mana. Ketak jelasan pusat (inti) dengan pinggir, mampu merubah dengan niscaya potongan-potongan slide itu menjadi cerita utuh, indah, cantik dan harmonis, dan yang penting sangat dramatis sekalipun menjadi seribu potongan (kesatuan yang dinamis; aku pikir). Dengan sangat jelas, perasaan dan konstruksi nalarku melukis wajah seorang perempuan dengan detail dan hidup, akan tetapi rupanya keselarasan dua entitas itu tak mampu ditangkap dan diterjemahkan secara utuh oleh pengucap, varbalitas bahasa merujuk penanda lain; sehingga antara penanda dan petanda tidak mendapatkan kesatuannya. Percikan nama dan abstraksi wajah seseorang kontradiksi dalam dirinya sendiri; padahal keduanya merupakan sejarahku yang nyata akan tetapi berbeda dalam kesatuan. Yang pertama, penanda dari sekian alur romantis yang telah aku tanggalkan dengan sangat sadar. Sebaliknya yang kedua, adalah sketsa sejarah yang kedua kakiku masih menjejak dengan kuat pada bidaknya dan aku sendiri belum mampu melampauinya sekalipun menutup arus pengetahuan yang aku miliki.
Aku melolong; badai dahsyat bergelombang menyapu sekian “konstruksi perasaan” yang telah mapan. Pada akhirnya gerimis membuncah, menambah beban malam semakin mencekam, lautan kesedihan tak bisa aku arungi hanya dengan sampan kayu yang kecil. Gemuruh ombak menghempaskannya pada karang, tubuhku terbelah; kesadaran masa lalu yang optimis, memaknai penantian dengan bentuknya yang paling murni sehingga engkau tetap ada dan hidup dalam dunia yang telah aku ciptakan. Dengan silang sengkarutnya sari yang aku pisahkan dari sekian banyak kenyataan yang menggelayuti. Pada akhirnya yang tertinggal hanya sumpah yang sangat deterministic; membelenggu kebebasanku atas pilihan sebagai manusia. Dan inilah aku; hanya sekedar rajutan sumpah, mimpi dan penantian. Aku tidak akan menulis tentang keber-ada-an, karena telah terhapus kesadaran palsu yang tampak sebagai kenyataan “murni” itu sendiri. Aku sadar kebenaran telah lama hilang, akan tetapi seolah tak pernah aku temukan pilihan ketiga dari; hidup atau mati.
Aku berada pada tapal batas; garis singgung hidup dan mati. Memang aku sengaja. Aku harus hidup kataku, untuk menguji sekaligus mengakhiri “mutiara kata” yang telah aku keluarkan dari esensi tubuhku (walaupun pada dasarnya merupakan kematian), dengan menaklukkan hasrat libido pada “yang lain”, bermain api dalam rimba liar, merengkuh pekatnya malam dengan berbagai kejahatan-kejahatan yang terlanjur dilekatkan pada rekahan dadanya. Aku absahkan sebagai satu-satunya antitesa-penantian yang sering merenggutku.
Aku mati; memahat sendiri pada batu nisan rangkaian namaku yang sengaja aku sakralkan. Pemberhalaan atas sebuah perasaan abstrak, langkah antisipatif aku pikir. Biar Perasaan “yang lain” tak akan “merasa” dua kali, bahkan tak lagi berusaha menerobos beberapa kali. Seolah Batu karang yang telah mengeras ribuan tahun, akan tetapi hanya menunggu waktu untuk hancur. Walaupun perubahan itu tak pernah bisa dihindari; Setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan, untuk menundukkan kepala pada akhirnya atas “mutiara kata” yang aku keluarkan dengan kesadaran dan keyakinan utuh sebagai manusia yang mempunyai segenggam darah berdetak, aku tidak memintanya. Terjadi begitu saja dengan niscaya, dan aku harus menerimanya juga dengan niscaya. Dan…
Engkau bergeming sama sekali. Akan tetapi perasaan cinta yang telah mengakar tidak akan pernah mengalami entropi. Seperti angin yang tidak pernah dapat dihitung jumlahnya, bawang merah yang dikelupas bagian demi bagian dan tidak akan pernah ditemukan isi (inti)nya, dan kesunyian yang tak akan pernah mampu di baca dan ditafsirkan kehadiranya. Dan malam tidak akan pernah mampu dihitung berapa kali aku mendekapkan tubuhku pada pekatnya, seolah aku melihat penyiksaan sampai mati orang-orang yang aku cintai sebelum aku sendiri dieksekusi. Rupannya luka ini membekas terlalu dalam, “permintaan maaf”-pun bisa jadi tidak akan bisa menghapus rasa sakitnya apalagi hanya sekedar mengklaim bahwa semuanya itu terjadi begitu saja, siklus hidup yang harus diterima alurnya; suka atau tidak—kalaupun dia tidak sanggup mengatakan bahwa kesalahan sejarah yang memaksa dia melakukan demikian. Walaupun akibatnya rasa sakit yang tak terperikan. Harus diterima bagaimanapun keadaannya.
Tiba-tiba aku berada dalam belahan bumi yang sakit; sketsa negeri terbuang adalah ejawantah dari sekian lapisan perasaan sakit yang mengendap. Keterasingan, kegetiran, kesendirian, kesepian dan keterbuangan kesemuanya adalah piranti lunak yang sengaja diciptakan untuk memurnikan antitesa-penantian yang terlanjur terdistorsi oleh beragam kenyataan timpang dan anomi yang juga sengaja diciptakan sekaligus dimapankan.
Kau! Adalah tuan atas kedaan ini, sadar atau tidak. Flamboyant yang tumbuh diantara teratai dalam taman surgawi bukannya rimba belantara—yang—pada dasarnya bagian fundamental dan integral atas kehidupan. Bukan hanya sekedar keindahan akan tetapi bagaimana mencoba untuk bertahan dari kepunahan; kemudian meretas “keindahan lain” yang lebih pantas aku lekatkan pada sketsa negeri terbuang yang dihuni oleh kekasihku yang sebenar-benarnya kekasih, ibu dari anak-anakku; dan perempuan pilihan hidup—yang belakangan aku tahu bahwa dia tidak punya pilihan hidup—menjadikannya simbol keterasingan atas dunia yang sebenarnya; dan aku menjadi seorang pelarian; terpidana mati atas pembalikan makna kebenaran bagi kesadaran umum.
Dulu; telah aku lukis dalam kerangka pikirku; nafas pegunungan, hijau dedaunan, buliran-buliran bening embun jatuh pada gemericik air sungai mengalir melalui lembah, kabut tipis turun tergantikan sinar fajar baru berkilauan seperti permata yang seolah sengaja disebarkan dari atap langit. Aku bangun rumah kecil ditengah hamparan rerumputan hijau terhampar sejauh mata memandang, dipagari bunga flamboyant; sebagai penanda penyatuan rangkain masa lalu yang semula berbeda. Suatu pagi; Aku lihat dua anak-anak kecil bermain petak umpet dengan riuh canda tawanya, yang satu mengendap-endap mencari dan yang lain bersembunyi diantara pepohonan yang sedikit rimbun. Riuh tawanya semakin membahana, saat keduanya bertemu, saling mengejar, menghindar kemudian bergulingan pada taman yang sengaja aku tanam rumput-rumput tebal. Mereka berdua menghambur segera pada pelukan seorang perempuan yang sedari tadi melihat mereka dengan tersenyum diambang pintu dengan rambutnya yang tergerai melambai diterpa semilir angin pagi seolah memanggil-manggil, rengkuhan kedua tangannya memberikan kedamaian tersendiri pada kedua anak itu, siang hari mereka berdua terlelap.
Belum genap setahun yang lalu; dialah perempuan terindah yang pernah memelukku. Pada suatu malam tak seperti biasanya, mencekam dan gelap. Suatu malam yang—sampai saat ini—aku tunggu-tunggu lingkaran siklusnya. Sehingga mampu merubah definisiku yang semula; malam yang seolah bertaburan bintang-gemintang, menghiasi bulan sabit laiknya personifikasi seribu malam (kerinduan seorang hamba terhadap belas kasih Tuhan penguasa alam). Aku menitikkan air mata, ketika menulis paragraf ini……..
Aku terus membongkar dan mengais diantara puing-puing reruntuhan masa lalu; membawanya pada permukaan kesadaran; hanya sebagai obat sementara (terasa lebih sebagai candu) antitesa-penantian yang telah meretaskan kesakitan yang “Dahsyat”. Sungguh; pada akhirnya—sekarang, ya sekarang ini—aku tak mampu berharap banyak, semuanya menjadi abstrak, tak jelas kapan lagi aku bermimpi. Karena aku yakin pertemuanku dalam mimpi itulah yang meninggalkan jejak teramat dalam, satu-satunya harapan yang masih tersisa ketika semua pandangan telah kabur dan pendengaran menjadi tersamar. Aku tak mampu melihat diriku sendiri dalam cermin! Biarlah menjadi demikian adanya….dalam tubuhku masih kuat menanggung berapapun besarnya perih yang diakibatkan oleh rangkaian kata yang masih bersembunyi dalam palung hati. Dan
Jika engkau masih saja memamah luka; dan perihnya masih juga kau alamatkan padaku…
Aku akan membunuhmu perlahan-lahan sehingga kaupun lupa akan kematian….inilah janjiku! Janji perih pada lukanya; janji hujan pada mendung; dan janji hidup pada ruh serta janjiku padamu. Aku akan mulai mencekikmu dengan perasaan bersalah, kemudian keresahan dan ketakutan (seperti apa yang terjadi padaku pada bulan September sampai saat ini), dari situ kemudian aku akan menciptakan dunia yang tak akan pernah kau bayangkan sebelumnya; dunia yang hanya berisi siklus tunggal; mencekam; gelap; pekat dan mengerikan (pada sisi ini, aku merenggut sisi kemanusiaanmu yang kemarin dulu tuntas kau senandungkan kemanapun), aku juga akan mencerabut Tuhan pada tiupan awal ruhmu. Seterusnya kau akan menghiba—pada siapapun tak terkecuali padaku—untuk segera mengakhiri hidupmu karena ruang dan waktu telah aku kuasai sehingga dengan sendirinya menghapus ingatanmu akan pilihan bunuh diri bahkan kematian itu sendiri. Dan selamanya engkau akan ingat aku! Bahwa aku adalah maut itu sendiri. Nafas Maut yang terlanjur mencintaimu…….
Karena; kau telah banyak mengajariku bagaimana membunuh (lebih tepatnya menyiksa) dengan luka yang tak tampak; akan tetapi sakit dan perihnya mampu menembus peradaban manusia semenjak lahir hingga akhir hayatnya. “ketidakadanya-ketiadaan” begitu kira-kira aku menyebutnya. Sketsa merebut nyawa dari lawan yang banyak aku timba darimu. Sebentar lagi akan menjadi boomerang, karena karma seingatku belum terhapus dari bayang-bayang hidup, aku memanfaatkan keadaan ini, keadaan yang sedemikian nyata aku gambarkan. Dan tunggulah! waktunya sebentar lagi akan tiba….pekikku. (bersambung)

0 comments: