TENTANG CELANA DALAM

berkibar lenggang, malu-malu, angin tengah hari kotaku yang menyemburkan percikan neraka sedikit bocor menggodanya, dengan usapan lembut, walaupun begitu dia tetap seolah riang ditempatnya, tak ada sama sekali bau keringat, apalagi lelehannya yang membayangi permukaannya, tidak langsing tapi sungguh teramat indah bagi yang memandangnya dengan mata yang haus akan hasrat primitif yang mengeram dalam tempurung otaknya. bentuknya menyalahi standart kecantikan dan keindahan masa kini tak lain adalah perpaduan harmonis antara latar historis si mata memandang dengan persepsi masa kini tentang hasrat,sedikit banyak motif yang membangun objek tersebut juga mewarnai persepsi sehingga membawa kesimpulan, indah.

selama dua hari otakku dipenuhi fenomena keindahan itu, selain warnanya yang berbeda--hari pertama berwarna hitam, hampir menyerupai gelap, merah muda denga cita rasa sedikit pucat dihari selanjutnya-- motifnya tetap sama, dipelipit sebelah dalamnya terdapat rendai-rendai tembus pandang menandakan jemari yang menyulamnya sangat terampil dan lihai juga menambah kecantikannya.

tidak!!
sama sekali aku tidak berpikiran orang yang memakainya, sengaja aku keluarkan pikiran itu dari otakku, sekuat tenaga tersebab sekali pikiran itu kembali akan terjadi bencana; pertama, bilik termenungku (kamar mandi)--yang biasa aku istilahkan ruang pengakuan bisu mengenai hasrat--akan terperangah dengan coretan sperma yang menghiasi wajahnya, seandainya dia bisa bicara dia hanya mengeluarkan seruan hanya dengan dua kata "kau kejam!!"

kedua, bahwa aku akan menggangu si empunya celana dalam itu--walaupun tidak dalam artian fisik-psikis, akan tetapi pikiranku cukup lihai menelanjangi tubuhnya walaupun rapat terbungkus baju dari arab sekalipun dengan tanpa disadari oleh si empunya; pikiranku dengan ragam keistimewaan yang dibawanya (innate) mampu menjangkau dikedalaman penutup,pembungkus tubuhnya; jangan hanya secarik kain, tembokpun mampu ditembusnya dengan tanpa kesulitan. setelah telanjang apalagi yang dilakukan bagi mata-mata serta dada yang dipenuhi dengan keindahan hasrat priomitif yang menggebu, kalau bukan menikmati dan mencerecap sarinya hingga tandas, tanpa berbelas kasihan terhadap air mata pemberontakan yang dikelaurkannya, tapi beruntungkalah aku tidak sampai melakukan kekejaman persepsi yang semacam itu.

aku yakin tragedi yang terahir inilah yang akan menimbulkan banyak perdebatan; munculnya aturan perempuan dilarang memakai baju yang mini (merangsang), disapritas lelaki dengan perempuan, dengan akibat (secara historis) perempuan berada dibawah laki-laki,komitmen perjuangan inil yang kemudian hari me/dinamai Feminisme, dan masih banyak ragam lainnya, silahkan ditambah sendiri deretannya.

perlu dicatat, bahwa persepsi dan bayang-bayang kedua celana dalam itu masih menggelayuti pikiranku, dengan lembut, laiknya semilir angin sore dengan beberapa bercak panas didalamnya sengaja mengipasi hasrat dalam dadaku, hasrat keindahan yang substansinya sama seperti saat aku melihat indahnya keindahan gunung, birunya laut.


aku ingat istailah yang diberikan R. Barthes, bahwa pengalaman yang demikian mirip dengan HASRAT SEKSUALITAS TANPA AURA,dan seperti inilah pencerapan kemurnian keindahan yang ditimba dari karya sastra terkait dengan obyek tubuh, yang istilah umum disebut dengan "tak-bermoral" tersebab terlalu mengekspose secara verbal sesuatu yang harus ditutupi seolah dengan niscaya, menurutku.

0 comments:

Posting Komentar | Feed

Posting Komentar



 

Aksara Berdarah Copyright © 2009 REDHAT Dashboard Designed by SAER