MELUKIS NEGERI DENGAN IMAGINASI KANFAS TERBALIK

dinegeriku banyak orang melakukan keganjilan, amoral dan irasional (dalam logika tradisional) yang kemudian seolah dijadikan standart tingginya status dan diperlakukan dengan sangat istimewa, pemegang pimpinan struktur dalam pemerintahan adalah orang-orang yang (harus; telah) melakukan kejahatan dan kekejian, semakin orang tersebut melakukan kejahatan dan kekejian tingkat tinggi, semakin melejitlah posisi dan kedudukannya; seorang presiden harus terlebih dahulu telah melakukan pembunuhan masal dengan cara meminjam tangan orang lain atau sistem dan struktur lain; pembunuhan masal ini bisa dilakukan dengan cara menaikan dengan setinggi-tingginya harga makanan pokok atau dengan menyewa teroris memasang bom dan peledak didaerah atau wilayah-wilayah padat penduduknya, dari sini mengakibatkan gangguan keamanan sekaligus mencengkram psikis dengan perasaan cemas bahkan ketakutan juga akan mengakibatkan kelaparan masal, kelaparan masal adalah semacam takdir yang harus diterima dengan lapang dada dengan standart keimanan yang semakin tebal; walaupun banyak memakan korban jiwa dan nyawa. "Bukankah untuk meraih sesuatu yang berharga harus ada yang dikorbankan???"

akhirnya negeriku kehilangan separuh dari populasi masyarakatnya karena kelaparan; yang lainnya terancam pembunuhan (ingat negeriku, para pembesarnya harus melakukan kejahatan yang sangat potensial untuk mendongkrak jabatannya) pembunuhan. tiap hari ada nyawa yang melayang nyaris diatas sepuluh biji, tubuh-tubuh renta tergeletak dipinggir jalan tanpa kepala, suatu ketika juga tanpa bagian dalam dari tubuhnya, karena harus diimpor ke luar negeri dengan harga yang sanga mahal, lebih mahal dari harga beras dan bahan makanan pokok lainnya.

ya,..begitulah sedikit secara singkat aku ceritakan keadaan di negeri aku dan sebentar lagi kita akan menyaksikan upacara akbar penyematan sebagai bapak bangsa presiden kita. upacara akbar ini akan dilaksanakan dengan hikmat di alun-alun ibu kota saaat malam bulan purnama penuh dan harus dihadiri oleh semua masyarakat dari seluruh penjuru tanah air, anak-anak kecil, tua dan muda, tidak ketinggalan juga orang-orang panti dan jompo; tegasnya semua harus menyaksikan, dengan ancaman "siapapun yang hadir akan diberi sekantong beras" ancaman ini cepat membuat nyawa-nyawa yang sudah tidak betah mengeram dalam tubuh mengeluarkan air liurnya.

maka berkumpullah pada malam itu; malam yang cerlang gemintang dengan bulatan bulan penuh, lampu-lamu bola disekeliling alun-alun menyala redup tapi cukup mampu menerangi beberapa ribu orang yang mulai berbondong-bondong menghadiri upacara akbar tersebut, selain pulang akan membawa sekantong beras juga ingin melihat bagaimana rupa dan warna kulit presiden mereka, seorang presiden yang membuat air mata membuncah saat mulut dan lidah tiap kali mengucapkannya namanya.

Ditengah alun-alun terlihat kepunden, undak-undakan berbentuk karucut, hampir menyerupai piramida mesir, "lihat ada seseorang yang berdiri diatas undak-undakan itu" teriak seorang dalam kerumunan yang diikuti semua mata memandang dengan arah yang sama. Seorang lelaki separuh baya berdiri bertelanjang, berdiri tegak menghadap munculnya bulan purnama; kulitnya yang putih halus, bercahaya terpias cahaya bulan; wajahnya yang bersahaja, mulutnya dan bibirnya yang mungil selalu menyungging senyum.

"selamat datang, bapak ibu saudara dan adik-adik sekalian" tiba tiba suara perempuan menggeletar, menyerobot kesadaran semua mata yang memandang kearah lelaki yang berdiri bertelanjang itu melalui telinganya, " kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran saudara-saudara sekalian dalam acara penyematan tanda Bapak Bangsa presiden kita" suara seorang wanita lembut mendayu dengan intonasi mirip saritilawah dalam pengajian-pengajian, "sebelum upacara penyematan ini dilakukan, kami berharap bapak ibu saudara sekalian menata diri mengelilingi kepunden yang berada di tengah-tengah lapangan, mohon untuk tidak mengucapkan sepatah katapun, karena upacara akan segera dilaksanakan tepat pada saat bulan purnama diatas kepala presiden kita".

Suara wanita pembawa acara itu Ibarat mantra sihir, sesaat setelah hilang suara itu, tertinggal hanya dengung microphone segera dilakukan oleh semua yang hadir disitu, dengan tidak banyak bicara, melangkah melingkari undak-undakan. Ada yang berjalan dengan menundukan kepala, seolah mencari beberapa keeping uang yang tidak sengaja terjatuh, maklum alun-alun ini berada tepat didepan gedung istana, "siapa tahu beberapa uang receh sempat terlihat oleh mata" katanya sembari terus memicingkan kelopak dan retina mata. Ada juga yang sesekali melirik keadaan sekitar, "tak ada sama sekali pengawal yang terlihat, tak ada polisi atau tentara" bisik hatinya, "ah, mungkin sang presiden dijaga dari jarak jauh, oleh beberapa penembak jitu, mungkin diatas sana" dia melirik ke atas gedung DPR/MPR yang kata orang kalau dilihat sekilas terlihat seperti Vagina perempuan yang masih kuncup. Ada juga ibu-ibu yang sibuk membekap mulut anak-anaknya yang menangis, teriakan-teriakan dan tambur-keroncong dalam perutnya melebihi hingar tangisan dan sedu-sedan anak itu, seorang lelaki tua, berkaki timpang, dengan hati-hati menyeret sebelah kakinya, seolah rumput alun-alun itu adalah lantai pualam sebening kaca istana nabi sulaiman, sedikit goresan kakinya yang timpang berakibat lecetnya keindahan yang tampak sempurna itu. Muda-mudi dengan kecepatan insting hewaninya cepat merespon keadaan seperti itu, sebagai kesempatan sekali seumur hidup untuk hanya sekedar saling bergandeng tangan, saling berbellitan jemari, atau juga ada yang iseng-iseng saling meraba dada dan kelamin lawan jenis masing-masing, desahan-desahan lirihpun muncul, mencipta banyak mata saling melirik curiga, "maklumlah, keseharian mereka selalu disibukkan dengan pikiran-pikiran tentang makanan dan ketakutan yang selalu dan terus mengeram dalam dada dan tempurung otaknya" suatu suara melejit menutupi lirikan jalang mata yang curiga serta menghapus desahan lirih dari bibir pecah merindukan lumatan bibir lawan jenis.

"bapak ibu saudara dan adik-adik sekalian, sebentar lagi Upacara segera dilaksanakan akan tetapi terlebih dahulu", pembawa acara dengan suara dan intonasinya mirip pembaca saritilawah, memecah keheningan alun-alun, "menyatakan bagaimana bapak presiden tiba-tiba mendapat penghargaan besar—korupsi—yang belum dikenal masa jahiliah sekalipun. Logikanya, kalau jaman jahiliah adalah jaman yang sebenar-benarnya orang masuk dalam tataran binatang (dengan indikasi prilakunya), maka kejahatan yang belum dikenal dimasa jahiliyah—taruhlah pra-jahiliyah, adalah kejahatan luar biasa yang melebihi kejahatan yang dilakukan pada masa kejahiliaan, dan levelnya adalah iblis atau malaikat (berbeda tipis saat dilihat dari sudut pandang dan polaritasnya, dan inilah prestasi yang paling membanggakan dari bapak presiden kita yang tercinta"

Suasana hening sejenak, hanya terdengar tarikan nafas perlahan dari microphone.

Bulan purnama berada tepat diatas kepala sang presiden, terlihat semakin jelas raut wajahnya yang bersemu merah tanda beberapa aliran darah terkumpul dikepala, entah merasa malu, cemas ataukah meredam kebahagiaan atas pengukuhannya, hanya sang presiden dan Tuhanlah yang tahu. Beberapa guritan tahuan dan umur menghias beberapa sudut kedua mata tanda telah banyak makan asam garam kehidupan, cetakan hitam yang bergelayut di kelopak bawah matanya yang menggelambir seolah banyak bercerita bagaimana sang presiden nyaris tergannggu tidurnya karena banyak memikirkan kondisi dan masa depan bangsa dan negerinya, hingga suatu saat saat diliput beberapa media sang presiden dengan gagah dan santunya mengatakan "aku tidur hanya beberapa jam, tidak lebih dari empat jam" pernyataan spontan sang presiden disambut dengan rasa kasihan semua orang yang kebetulan melihat berita pada hari itu.Tubuhnya yang telanjang, gemuk dan perutnya menggelambir disna-sini tampak tambah putih, dua titik bersebalahan didadanya; putting terlihat semakin menghitam, kemaluannya yang merunduk, takdim seolah mampu menghayati esensi upacara penyematan tanda Bapak Bangsa.

Upacara dilanjutkan (sebelum semua orang menerima sekantong beras), instruksi mencemooh dan meludahi sang presiden sampai sang presiden menderita tekanan batin dan psikis yang begitu hebat, karena MALU. Malu dan khawatir kembali mendapat cemoohan dari semua orang, dengan kecerdasan penasehatnya presiden harus membuat semacam pengawal (paspampres), kendaraan lapis baja, pesawat dan jet pribadi anti peluru, dan tidak lupa (inilah yang teramat sangta penting merebut perhatian masyarakat) selalu tersenyum untuk mencuri hati semua masyarakatnya hanya agar tidak dicemooh dan direndahkan moralitas dan statusnya sampai pada se-level iblis saat berada ditengah-tengah masyarakat baik secara fisik maupun dalam media, dengan gaya bahasa yang halus, santun serta sopan.

"masyarakatku memang aneh" katanya suatu kali saat memberikan pidato kemerdekaan "selalu saja punya cara yang amat cerdas untuk menghormati presidennya" lanjutnya ditutup dengan senyum simpul yang bersahaja, tempik sorak seketika membahana memenuhi gedung pertemuan sebesar dua kali stadion gelora sepuluh November Surabaya.

Tiba-tiba, tiga pesawat F-16 terbang rendah berdampingan, serta-merta ibarat dikomando melepaskan misilnya bersama-sama dalam waktu yang bersamaan, dengan cepat tanpa jedah sedetikpun, menghancurkan dan meluluh-lantakkan gedung itu,..blooommmm!!!!

Beberapa detik, sang presiden melenggang keluar, dengan mengeratkan tali dasi kemudian masuk limosin hitam, dengan terlebih dahulu mengormat sambil menyungging senyum kearah gedung yang telah menjadi berantakan.

"Astaga!!!" teriakku sambil tersengal, dengan dada berdegup kencang dan keringat yang melahar, aku duduk memeluk lutut sebentar sambil menenangkan pikiran dan perasaan, mataku mengerling ke jarum jam tangan menggeletak diatas tumpukan buku, kemudian segera pergi ke kamar mandi, dan pergi kerja dengan tergesa-gesa "aku telat lagi" kataku sambil berlari-lari kecil karena titik-titik gerimis mulai dihamburkan dari atap langit.

0 comments:

Posting Komentar | Feed

Posting Komentar



 

Aksara Berdarah Copyright © 2009 REDHAT Dashboard Designed by SAER