TUHAN & PIKIRAN

pada suatu masa; kekeringan melanda bumiku yang sebelumnya sejahtera, semua tanaman tak ada hasil sama sekali, tidak cukup air, jangankan untuk mengairi, minum saja teramat susah. tanah-tanah kering tandus dan pecah-pecah, bibir penghuninyapun pecah dan pasi, tak ada lagi air mata yang keluar, keringatpun mengepul entah kemana perginya, tegasnya semua kering kerontang,..

ditempat yang telah dijanjikan; tiga hari sebelumnya, semua masyarakat dianjurkan puasa, dengan satu niat dan fokus kesadaran, "minta turun hujan". lapangan itu masih kelihatan lengang, hanya ada beberapa baris fatamorgana mempermainkan tanah dengan wajah pecah, beberapa menit munculah beberapa orang dari segenap penjuru sudut lapangan, berjalan gontai (hampir menyerupai pasukan yang kalah di medan perang, semua orang berkumpul tepat di titik tengah lapangan, pada titik itu, tepat diatasnya berdiri seorang tua, beberapa jenggotnya yang panjang dan jarang menjuntai kebawah, bersongkok hitam dengan hiasan kuning keemasan dipelipinya, songkok yang sudah kelihatan usang dan tua, mungkin umurnya setua pemakaianya. bibirnya yang pecah-pasi sedikit ditarik, senyum simpul seolah menggoda fata morgana yang masih saja bersetubuh dengan panas, tidak malu dengan kerontang tenggorokan manusia yang berkumpul ditempat itu, kedua matanya berkilat, menandakan keyakinan diri, surban putih tulang, juga telah usang melilit dileher, satu ujungnya menjuntai didepan dada, yang lainnya di sebelah samping punggung.

tanpa suara, tanpa ribut-ribut dan hidmat, semua orang seolah mempunyai tombol mekanis yang ada dalam diri masing-masing, semua menata diri hingga membentuk barisan panjang (shaf), barisan yang kalau dilihat dari atas hampir menyerupai anak panah dengan titik di ujungnya yang runcing, mengancam dewa panas yang menyebabkan bencana mereka. anak panah dengan titik kecil diujungnya yang runcing itu tersepuh dengan satu niat dan pikiran, mengusir bencana dengan memanggil awan yang datang dengan membawa beberapa air dalam bejana.

aku melihat semua itu dari bawah pohon yang telah terenggut semua daun-daun dan hijau kulitnya; setelah barisan itu rapi dan hidmat, orang tua yang menjadi titik kecil diujung panah yang runcing itu memimpin penyerangan terhadap dewa panas, sekaligus menyatakan keluh kesah pada awan, dengan gerakan-gerakan ritual.

iya, sungguh, aku melihat sesuatu yang terkumpul dari masing-masing orang itu, terkumpul diatas mereka menerobos langit-langit dan jejaring yang sengaja dipasang oleh matahari yang saat itu begitu angkuh, setelah itu gemuruh guntur menyambar-nyambar, memanggil awan yang beberapa bulan menghilang entah kemana, tak sebegitu lama, dengan malu-malu dan sedikit agak malas awan tiba-tiba muncul, terbang kemudian berhenti diatas mereka yang menjalankan ritual. terbang laiknya bidadari membopong bayi peri cantik dengan hati-hati.

aku melihatnya sangat jelas saat awan itu tersenyum, kemudian menumpahkan semua isi bejana yang dibawanya (yang aku personofikasi sebagai anak peri) tepat saat ritual itu selesai dijalankan. pekik kegirangan dan kebahagiaan memuji-muji Tuhan mereka membahana hingga menyerupai suara tambur kemenangan dalam perang, "hujan telah datang, hujan telah datang" hanya kata-kata itu yang selalu terlontar ditiap bibir yang basah karena air hujan.

akupun lari tunggang langgang, terlebih dahulu menutup buku yang beberapa hari ini aku baca THE LOST SYIMBOL, menyelamatkan diri dan buku dari ancaman hujan, gemuruh dan halilintar yang menyambar-nyambar. setelah berhasil menyelamatkan diri dan menghindar, masih sambil bernafas tersengal-sengal dan degup jantung tak beraturan, "Tuhan Maha Cerdas" kataku pada diri sendiri, "makanya Tuhan bilang BERDO'ALAH NISCAYA AKU KABULKAN"

0 comments:

Posting Komentar | Feed

Posting Komentar



 

Aksara Berdarah Copyright © 2009 REDHAT Dashboard Designed by SAER