bagaimanakah indikasi fisik orang yang jatuh cinta? kayaknya aku sepakat dengan jawaban avesina (arab; ibnu sina), dan ini telah dilakukan oleh abu nawas saat mendeteksi penyakit pangeran tartar (pendudukan timur leng pasca harun al rasyid), masyarakat pada saat itu banyak menganggap bahwa sang pangeran menderita penyakit misterius, ada yang bilang terkena dukun santet, yang jelas macam-macamlah orang menganggap penyakit si pangeran; beberapa tabib istana tidak mampu mendeteksi penyakitnya apalagi sampai memberikan formula dan resep yang tepat untuk penyakit tersebut.
diundanglah abu nawas (syeh juha; arab) ke istana, mencoba mendeteksi penyakit si pangeran, setelah bertemu berdua dengan si pangeran, abu nawas sambil senyum-senyum melaporkan keadaan si pangeran pada sang raja sekaligus para pembesar lain, tidak terkecuali tabib2 istana yang sangat dipercaya raja.
"yang mulia" kata abu nawas mengawali, tetap dengan mulut menyungging senyum (aku juga senyum pada saat abu nawas mulai bicara) "sang pangeran terkenak penyakit yang tidak ada obatnya dalam belahan dunia manapun, sia-sialah para tabib istana dengan sekuat tenaga membuka-buka buku ketabiban, apalagi buku-buku yang di import dari barat"
semua orang tercengang, semua tabib melongo, tak terkecuali dengan raja sendiri.
"jadi benar, anakku kena santet" tanya raja dengan wajah masam dan geram, wajahnya merah seperti udang rebus setengah matang, semua darahnya mengalir ke kepala, saking marahnya.
"benar yang mulia, sang pangeran terkenak sihir yang sangat ampuh" jawab abu nawas, "pangeran hanya menunggu ajal, tapi terlebih dahulu harus melalui pintu gerbang kegilaan, entah berapa lama hingga sampai ke gerbang maut" lanjut abu nawas dengan tanpa ekspresi.
"gila!!!, apakah memang benar-benar tidak ada obat??? hey!! syeh, kau jangan berbohong, awas!! kepalamu taruhannya kalau kau berbohong"
"hamba jujur yang mulia, hamba tidak bohong, kepala hamba sebagai taruhannya kalau hamba salah apalah sampai berbohong"
dalam ruang pertemuan itu, semua orang pada ribut-ribut, saling berbisik diantara teman sebelah, ada yang percaya, meragukan bahkan tidak percaya, yang terahir ini mereka adalah para tabib istana, selain apa yang mereka dengar tidak ada dalam buku-buku juga guru tabib mereka tidak pernah mengatakan penyakit yang semacam ini.
"bagaimana kau mendeteksi penyakit sang pangeran wahai syeh, sementara kau bukanlah tabib" teriak salah satu tabib istana dengan tidak percaya.
"mudah jawabnya" jawab syeh, "aku hanya mengucapkan beberapa nama, sambil mengamati dengan teliti perubahan wajah, detak jantung dan nadinya, setelah itu aku simpulkan, bahwa sang pangeran terkenak sihir yang sungguh dahsyat"
"hanya dengan cara itu??" timpal tabib yang lain
syeh juga hanya tersenyum sambil sedikit menganggukan kepalanya.
"kalau begitu syeh" tiba-tiba sang raja menyela, "apa kau tahu juga siapa si laknat yang mengirim sihirnya ke anakku??"
"aku tahu yang mulia, aju juga tahu daerah, orang tua dan nama orang itu"
"panglima!!" teriak sang raja "cepat kau bawa pasukanmu cari orang laknat itu, bantai sekalian keluarganya, dan jangan lupa kau bawa kepalanya dihadapanku, aku ingin melihat wajah dan rupa orang yang menyakiti anakku" sang raja sudah tidak mampu mengendalikan kemarahannya, perintahnya diucapkan laiknya guntur di awal musim.
"dan kepalanya akan menjadi dua kalau sudah sampai istana" sela abu nawas
"apa maksudmu wahai abu nawas?"
"benar yang mulia, sampai istana, aku yakin kepala itu akan menjadi dua"
"yang satunya kepalamu syeh" celetuk tabib, disambut dengan gelak tawa semua yang hadir
"bukan kepalaku, wahai tabib yang pandir, tapi kepala sang pangeran"
serta merta semua yang hadir menutup mulutnya, hanya mata mereka membelalak tidak percaya
"yang mulia, sang pangeran terkenak sihir, namanya sihir cinta dan begitulah orang yang jatuh cinta yang mulia, aku yakin orang yang saling mencintai, jangankan sakit mautpun akan dijadikan hanya main-main yang mulia, coba yang mulia pikir dengan otak yang dingin, bagaimana reaksi sang pangeran kalau tahu bahwa orang yang menyihirnya hanya berbentuk kepala? bukan tidak mungkin sang pangeran akan ingin mati juga, menemui orang yang dicintainya, kelaupun tidak sang pangeran seperti mayat hidup, jasadnya utuh tapi tanpa hati dan perasaan, apakah yang mulia ingin sang pangeran, penerus tahta istana menjadi orang yang seperti itu"
sekejab, sang raja hanya duduk diam, tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, beberapa kali nafas sang raja kelihatan tersengal-sengal tanda perasaannya terhimpit oleh persoalan sang pangeran yang bengitu sangat aneh penyakitnya.
"terus apa yang harus aku lakukan syeh?" tanya sang raja dengan suara hampir berbisik
"pertemukan, hanya itulah satu-satunya obatnya yang mulia"
BERSAMBUNG
*adaptasi bebas cerita abu nawas entah cerita yang mana,..hehehehe

0 comments: